Anak Kecanduan Game? Ini Trik Orangtua Mengatasinya

BATAM | WAJAHKEPRI – Bermain game menjadi salah satu aktivitas yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak. Jika dilakukan secara wajar, bermain game dapat menjadi hiburan. Namun, ketika game mulai mengganggu waktu belajar, tidur, aktivitas fisik, hubungan keluarga hingga kehidupan sosial anak, orangtua perlu mulai mengambil langkah.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) telah memasukkan gaming disorder atau gangguan akibat perilaku bermain game ke dalam ICD-11. Kondisi tersebut ditandai dengan sulitnya mengendalikan aktivitas bermain game, game menjadi prioritas dibandingkan aktivitas lain, serta tetap bermain meskipun sudah menimbulkan dampak negatif.
Meski demikian, WHO juga menegaskan bahwa hanya sebagian kecil orang yang bermain game yang mengalami gaming disorder. Karena itu, anak yang senang bermain game tidak otomatis dapat disebut kecanduan. Yang perlu diperhatikan adalah dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Jangan Langsung Melarang
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orangtua adalah langsung mengambil perangkat atau melarang anak bermain tanpa memberikan penjelasan.
American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan orangtua membuat aturan penggunaan media bersama anak. Aturan tersebut sebaiknya tidak hanya berisi larangan, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan anak untuk belajar, tidur, bergerak aktif, bersosialisasi dan melakukan kegiatan lain.
7 Trik Orangtua Mengurangi Kecanduan Game
- Buat aturan waktu bermain yang jelas
Tentukan kapan anak boleh bermain dan kapan perangkat harus disimpan. Aturan sebaiknya dibuat secara konsisten dan disesuaikan dengan rutinitas keluarga.
- Jangan menjadikan game sebagai satu-satunya hiburan
Orangtua dapat menawarkan kegiatan pengganti seperti bermain di luar rumah, olahraga, membaca, menggambar, membantu pekerjaan rumah atau melakukan kegiatan bersama keluarga.
AAP menyarankan agar penggunaan media tidak sampai menggeser aktivitas penting seperti tidur, pekerjaan sekolah dan aktivitas fisik.
- Orangtua ikut memahami game yang dimainkan
Daripada hanya bertanya, “Sudah berapa jam main?”, cobalah sesekali meminta anak menjelaskan game yang sedang dimainkan.
Bahkan, orangtua dapat bermain bersama anak. Menurut AAP, bermain game bersama dan membangun komunikasi positif dapat membantu aturan penggunaan media berjalan lebih baik dibandingkan hanya membuat larangan.
- Hindari memberikan gadget menjelang tidur
Buat kebiasaan bahwa perangkat elektronik disimpan pada waktu tertentu menjelang tidur. Hal ini membantu menciptakan rutinitas malam yang lebih teratur dan mencegah aktivitas bermain mengganggu waktu istirahat.
- Gunakan parental control
Orangtua dapat memanfaatkan fitur parental control pada smartphone, tablet, konsol game maupun perangkat lainnya untuk membantu mengatur durasi penggunaan, pembelian dalam game, konten dan aktivitas digital anak.
- Berikan pilihan, bukan hanya larangan
Daripada mengatakan, “Tidak boleh main game!”, orangtua bisa memberikan pilihan seperti:
“Kamu boleh bermain setelah pekerjaan rumah selesai. Setelah itu kita olahraga atau jalan-jalan bersama.”
Cara ini membantu anak memahami bahwa waktu bermain tetap ada, tetapi harus diseimbangkan dengan tanggung jawab lainnya.
- Orangtua juga harus memberi contoh
Anak belajar dari kebiasaan orang di sekitarnya. Jika orangtua meminta anak berhenti menggunakan gadget tetapi orangtua sendiri terus bermain ponsel, aturan tersebut akan lebih sulit diterapkan.
AAP menekankan bahwa orangtua merupakan contoh penting dalam membangun kebiasaan digital yang sehat di dalam keluarga.
Kenali Tanda yang Perlu Diwaspadai
Orangtua perlu lebih serius memperhatikan kondisi anak apabila bermain game mulai menyebabkan perubahan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari, misalnya anak sulit mengendalikan waktu bermain, mengabaikan aktivitas lain, terus bermain meskipun sudah menimbulkan masalah, atau fungsi sekolah, keluarga dan sosial mulai terganggu.
WHO menjelaskan bahwa diagnosis gaming disorder berkaitan dengan gangguan yang bermakna terhadap fungsi pribadi, keluarga, sosial, pendidikan atau pekerjaan.
Bukan Memusuhi Game, tetapi Mengajarkan Keseimbangan
Pada akhirnya, tujuan orangtua bukan sekadar membuat anak berhenti bermain game. Yang lebih penting adalah membantu anak belajar mengendalikan penggunaan game dan menyeimbangkannya dengan aktivitas lain.
AAP juga mengingatkan bahwa sebagian besar anak dan remaja yang bermain video game tidak mengalami kecanduan atau masalah serius. Namun, ketika bermain game mulai mengganggu bagian penting dari kehidupan anak, orangtua perlu turun tangan. Jika upaya mengurangi permainan terus mendapat penolakan dan masalah semakin berat, orangtua dapat berkonsultasi dengan dokter anak atau tenaga profesional yang sesuai.
Kuncinya bukan sekadar “stop game”, tetapi membangun kebiasaan digital yang sehat melalui aturan yang konsisten, komunikasi dan keterlibatan orangtua.
